Cikalong Wetan ‘Berdandan’ #1


Di suatu dini hari bulan Desember 1990, ada perempuan yang berjuang melahirkan anak pertamanya. Suaminya membawa ia ke bidan. Ini Cikalong Wetan, sebuah desa, belum ada rumah sakit di sini. Ia sudah menahan nyeri beberapa jam, ketika akhirnya seorang anak perempuan berhasil dilahirkan. Perempuan itu bernama Haryati, ibuku.

Gambar diambil dari sini

Gambar diambil dari sini

Ya, aku lahir dan besar di desa bernama Cikalong Wetan. Aku menghabiskan masa kecil bermain petak umpet di sekitar Kantor Kawadanaan (sekarang menjadi Kantor Kecamatan). Pada pagi hari, saat duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, aku berangkat ke sekolah berjalan kaki. Kadang melewati jalan setapak dengan kebun di kanan-kiri jalan. Sejuk.

Pada hari libur, kakekku mengajakku jalan menyusuri pematang sawah atau memancing ikan di kolam. Sawah dan kolam di sini luas, dulu sih begitu. Sekali waktu di musim kemarau, jika air sumur di rumah sedang kering, aku sekeluarga akan mandi dan mencuci di sungai. Ada yang menyebutnya Sungai Cileuleui, ada juga yang menyebutnya Sungai Cilurah. Entahlah nama sebenarnya apa, yang pasti dulu masih bisa untuk mandi dan mencuci. Sekarang airnya coklat sekali. Kalau mandi di sana harus berendam bersama sampah. Miris, ya?

Suatu ketika sekitar tahun 2003, warga di desaku ramai sekali. Sore itu tidak biasa. Aku duduk di kelas dua SMP saat itu. Orang-orang membawa balon dengan tulisan tertentu. Rupanya hari itu adalah hari pembukaan sebuah minimarket. Bersamaan dengan itu, di tahun yang sama, sedang dibangun jalan tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang). Semua tak lagi sama, menyusul kemudian dibangun sebuah pabrik tekstil.

Ada perkebunan teh yang luas di desa ini, milik PTPN VIII. Di daerah Maswati hingga Panglejar. Asik sekali jalan-jalan pagi menyusuri kebun teh itu. Udara sangat segar. Tentu saja, pohon teh terhampar luas, jauh dari polusi kendaraan. Sekarang, kita akan melihat jalan tol membelah kebun teh. Jika kau melintasi tol Cipularang, kau akan melihat tulisan besar “Walini”, itulah daerah Cikalong Wetan. Kini lari pagi di kebun teh sudah tak sesejuk dulu. Bahkan dalam suatu kesempatan Menteri Badan Usaha Milik Negara, Pak Dahlan Iskan, pernah berkomentar, “Setelah dilintasi jalan tol, iklim di sana tidak sejuk lagi. Sudah ada polusi sehingga hasil tehnya kurang bagus. Ada dua opsi, diganti dengan bibit teh baru atau diganti dengan tanaman produktif lainnya, salah satunya karet.” (Berita lengkapnya dapat dilihat di sini).

Sekarang minimarket sudah berjamur, jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2003. Orang-orang senang belanja ke minimarket. Warung-warung kecil gulung tikar. Begitu juga warung-warung makan atau warung yang menjual oleh-oleh di sepanjang jalan Cikalong Wetan. Dulu sebelum ada jalan tol, kendaraan melintasi jalan utama di Cikalong Wetan, banyak yang berhenti di perjalanan, untuk makan atau membeli apa saja, itu berarti rupiah untuk warung-warung di sepanjang jalan. Setelah ada jalan tol, kendaraan tentu saja memilih melintasi jalan tol. Di satu sisi, menggembirakan karena waktu tempuh antar kota jadi lebih singkat dengan adanya jalan tol, tapi dampaknya bagi pemilik warung-warung sederhana di sepanjang jalan Cikalong Wetan tidak begitu menggembirakan, juga bagi udara di sini, sekarang panas.

Oh ya, konon di Cikalong Wetan ada rencana dibangun Kota Raya Walini dan Kampung Asia Afrika. Di tulisan berikutnya aku ingin ‘curhat’ tentang rencana pembangunan itu. Saat menulis ini, ada perasaan yang sulit aku jabarkan. Kamu merasakannya jugakah saat membaca?

Rumahku Surgaku, 17 Februari 2013

~Icha Planifolia~

Tulisan selanjutnya : Cikalong Wetan ‘Berdandan’ #2

Advertisements

19 thoughts on “Cikalong Wetan ‘Berdandan’ #1

  1. Miris ya.. Tak selamanya bisa kau dapat masa lalu di masa kini. Manusia telah banyak merubah, manusia pun harus mau bertanggungjawab. Entah siapa yang harus disalahkan, tapi tak baik jika menyalahkan. Siapapun korban milenia, dituntut pintar memutar otak untuk meminimalisir semua yang tak diinginkan. Inilah jaman 🙂

  2. Pingback: Cikalong Wetan ‘Berdandan’ #2 | TRAVENITA

  3. wah, ktemu org cikalong wetan d sini. sya sempet tinggal d desa cipeundeuy 6thn, tau dun desa cipeundeuy hhe…
    salam kenal…. cikalong wetan na ti palih mn na?

  4. Iya Neng, akang juga sama dari cikalongwetan, dulu perkebunan karet sebelum ditanami Teh sekitar tahun 1980 an, setelah ditanami Teh lebih bagus bahkan sempat suka cari jangkrik kalung sampai dikejar kerjar Waker (istilah mandor perkebunan) karena udaranya sejuk, tp setelah ada waduk cirata yang dibangun tahun 1984, cikalong wetan udaranya jadi panas. bahkan sekarang saya sering sengaja makan siang diperkebunan untuk sesekali mengenang waktu masa remaja. he he h e he …. nostalgia sedikit….. Sy mendengar kabar perkebunan teh maswati ditanami pohon produktif, yaitu durian montong kelihatannya sistem tumpang sari.

    Rumah saya dulu di warung domba depan bekas rumah makan andalemi.
    tepatnya sekarang ditempati sama bidan Ibu Wida.

    Sekarang usia saya sy sudah genap 49 tahun, tinggal di cikalongwetan sejak tahun 1975, balik lg ke bandung tahun 1987, berarti sy sdh meninggalkan cikalongwetang 24 tahun, tp cikalongwetan rasanya tempat sy lahir, karena sy
    dibesarkan disana, mulaisekolah SD, SMPN Cikalong wetan, bahkan SMAN Cikalong wetang angkatan 2 tahun 1983

    Gitu Neng Icha…………… terima kasih ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s