Tentang Senja dan Mantra Bahagia


Sore yang hujan di tengah kesibukan ibu kota, Jakarta. Pasca memenuhi undangan interview dari sebuah perusahaan, aku memutuskan menginap di Lenteng Agung. Hmm…basecamp anak-anak sepeda, aku kerap menyebutnya begitu. Oom Damhar, pemilik ‘rumah’ ini.

Ada salah satu kalimat Oom Damhar yang kusimpan baik di ingatanku : “Gak ada ceritanya follower itu menang, pemenang itu harus leader. Dan buat memenangkan hidup, Lo harus mulai mengerjakan sesuatu, buat diri Lo sendiri, bukan buat orang lain!”

Demi mendengar kalimat itu, ingatanku segera melayang pada sebuah senja…

page senja

Hawa dingin segera menyambut kami. Aku dan Mbak Sasha tiba di area Embung Nglanggeran sekira pukul lima kurang. Kami memang ingin menyaksikan senja di sini.

Untuk bisa mencapai Embung Nglanggeran (dari arah Wonosari) trek yang dilalui lumayan aduhai. Tanjakan luar biasa curam. Dan tentu saja perlu diperhatikan bensin kendaraan jika ingin kemari. Setelah melewati jalan beraspal, kita masih harus melewati jalanan berbatu dengan medan yang tidak bisa dibilang mudah : menanjak dan lumayan licin. Berangkat masih relatif mudah, saat pulang jalan ini perlu ditempuh dengan hati-hati.

Tapi perjalanan tetap terasa menyenangkan karena disuguhi pemandangan hijau. Pohonan menghampar sepanjang mata memandang. Juga hawa sejuk pegunungan. Embung Nglanggeran ini terletak di lingkungan Gunung Nglanggeran, hanya saja kita tidak bisa mengunjungi keduanya sekaligus karena kedua tempat ini harus ditempuh dari jalur yang berbeda (jika ingin ke Gunung Nglanggeran sebaiknya masuk melalui gerbang dari arah Yogyakarta).

Embung dalam bahasa jawa adalah telaga. Telaga buatan.  Konon menyaksikan senja di tepi telaga di atas sana sangat memanjakan hati. Atau menggalaukan? Entahlah, rasa itu masih dugaan, karena senja belum lagi tiba. Kami masih berjalan, menjejaki tanah liat dan tangga.  Nantinya di sini akan dibuat kebun buah. Wah, kelak jika berkesempatan berkunjung lagi kemari aku akan menaiki anak tangga dengan buah-buah yang (barangkali) menggiurkan di kanan-kiri! Embung itu sendiri memang dibuat sebagai sumber pengairan untuk kebun buah ini.

Tidak perlu berjalan lama, akhirnya kami tiba di atas. Kami memilih duduk di atas batu. sembari menyaksikan langit yang perlahan sekali berubah warna.

Banyak yang kami bincangkan, tentang mengapa berangkat hingga tempat pulang. Tentang rupa-rupa kenangan yang teronggok di sudut ingatan. Tentang rupa-rupa nama yang pernah hilir mudik membuat catatan-catatan di sini, di hidup kami. Tentang apa saja. Satu yang kekal sekali di ingatanku :

“Romantis ya, Cha?” Tanya Mbak Sasha yang berdiri di belakangku.

Sembari duduk, aku masih tak memalingkan wajah dari langit yang jingga keunguan. “Heem. Warna langitnya bikin galau.”

“Iya. Sayang sama kamu!”

“Assseeemmm!”

Huh! Nona Kece itu tidak tahu apa aku pun merutuk. Sayang sekali senja seindah ini, seromantis ini, sesyahdu ini, disaksikan sama dia! 😀

Kami bergerak meninggalkan Embung Nglanggeran saat langit mulai gelap. Matahari sudah lindap di barat. Tapi, kami belum mau pulang. Bukit Bintang jadi pilihan…

#

Hari sudah gelap sempurna.

Aku menepikan motor di perbatasan Yogya-Gunung Kidul. Dari sini kita bisa menyaksikan kerlap-kerlip lampu kota Yogya. Sebelum duduk di trotoar, kami sempat saling pandang, lalu terbahak. Barangkali pikiran kami sama : asem cuma kita berdua yang datang tanpa pasangan! Ya, sepanjang trotoar itu, berjajar pasangan-pasangan yang sedang menikmati romantisnya kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Ah, memang indah, serupa sayap kunang-kunang!

Kami duduk berhadapan,. Memeluk lutut sekadar mengusir dingin. Atau menghalau galau? 🙂

“Mbak, mau dengar lagu Tempat Aku Pulang-nya Fiersa?” aku menawarkan. Sudah lama memang aku ingin berbagi lagu ini dengan Si Nona Kece ini. Mbak Sasha antusias mengiyakan. Dan kami berbagi headset. Tempat Aku Pulang mulai mengalun dari ponselku :

Apa kabarmu tambatan hati?

Masihkah kuhiasi mimpimu?

Kuharap kau melihat sang senja

Ada rindu kutitip di sana

Fisikku pergi meninggalkanmu

Namun kenangan ini tertinggal

Tak pernah jauh dari dirimu

Menanti perjumpaan yang indah

Benamkan rindu di pelukanmu…

seperti dulu

Tak ada jarak yang bisa membunuh rasa ini

Tak ada sedih yang tak mampu untuk kau sembuhkan

Aku tak takut melewati semua ini

Asal kau jadi tempat aku pulang

Seketika kami berdua terdiam. Hening. Pulang selalu membawa aroma magis. Dan kami terus berbincang. Berbicara apa saja. Kupikir adakalanya berbicara apa saja dengan seorang teman itu perlu.

“Yang pasti, Mbak, saat ada teman bercerita ini-itu, tentang segala hal yang ingin dicapai atau segala kesibukan yang menyita, aku selalu berpesan : jangan lupa bahagia! Kan gak lucu setelah segala pencapaian lalu tiba-tiba hambar. Tiba-tiba baru sadar bukan itu yang membahagiakan diri.” kataku sambil melempar pandang pada titik yang jauh. Jauh sekali.

Terdengar Mbak Sasha menarik nafas. “Iya, dan standar bahagia itu adalah standar bahagia kita, bukan masyarakat. Kita harus ingat selain sebagai makhluk komunal, kita juga makhluk personal!” Aku mengangguk, mengiyakan. Anggukanku boleh jadi tak kentara, tapi saat itu kami tahu bahwa kami sependapat.

Makhluk personal. Bahagia itu personal. Teramat personal. Jangan pernah lupa bahagia, Wahai Diri! Aku gumamkan itu berulang kali. Jauh di pendalaman, terus kugumamkan. Barangkali kelak ini akan jadi mantra mustajab untuk terus bahagia bukan atas apa yang ditentukan orang lain.

Setiap manusia berhak merayakan hidup dengan caranya sendiri. Berbahagia dengan caranya sendiri. Selamat berbahagia!

Menanti Senja dan Kamu

Menanti senja dan kamu…

 

Advertisements

6 thoughts on “Tentang Senja dan Mantra Bahagia

  1. Baca ini langsung merasa sedang di Embung & Bukit Bintang, Cha.
    Kau tau? Perbincangan kita malam itu adalah salah satu sesi perbincangan yang akan selalu kusimpan dalam sudut ingatan rapat-rapat.
    Semoga suatu saat semesta mempertemukan kita lagi dalam obrolan yang tak kalah cihuy dari waktu itu.

    • Cerita lompat batu? Mau baca aja atau mau baca banget? 😛

      Awalnya berpikir begitu. Tapi, ah perempuan terlampau misterius. Jadi saya cari Mas-Mas, Abang-Abang, atau…Oom-Oom saja. #sudahabaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s