Fight For Freedom : “Crazy in Alabama” Review


Nobody can give you freedom. Nobody can give you equality or justice. If you are a man, you take it.

—Malcolm X

MV5BMTM2MzgwMjEwMl5BMl5BanBnXkFtZTYwMzgxOTE5._V1_SY317_CR1,0,214,317_AL_

Gambar diambil dari sini

 

Tahun Rilis        : 1999

Sutradara           : Antonio Banderas

Durasi                 : 1 jam 51 menit

Diadaptasi dari : Novel “Crazy In Alabama”

Penulis               : Mark Childress

 

 

Crazy In Alabama, film yang disutradarai Antonio Banderas dan pertama kali release tahun 1999 ini memiliki “selera humor” ditengah tragedi. Ada dua kisah utama dalam film ini; Lucille (Melanie Griffith) yang membunuh suaminya yang kasar dan pergi untuk mengejar jalan hidup yang sangat diimpikannya, menjadi aktris dan tampil dalam acara televisi Bewitched (setting tahun 1965), yang selama ini selalu dicegah oleh suaminya dengan berbagai cara. Juga kisah perjuangan orang-orang ras kulit hitam di Alabama untuk memperoleh kesetaraan.

Kedua kisah tersebut dituturkan dari sudut pandang Peejoe (Lucas Black), keponakan Lucille yang berusia 12 tahun. Peejoe mengetahui pembunuhan yang dilakukan Lucille. Bahwa kepala suami Lucille dipenggal dan Lucille membawanya pergi. Peejoe diminta merahasiakan itu semua. Ia mencoba memahami mengapa Lucille harus melakukan itu semua.

Peejoe juga menyaksikan ragam ketidakadilan terhadap ras kulit hitam. Termasuk bahwa kolam renang hanya boleh digunakan oleh ras kulit putih. Taylor Jackson (Louis Miller Jr.) sebagai ikon dari orang ras kulit hitam yang menentang ketidakadilan, memimpin demonstrasi atas hal tersebut. Lalu terjadi konfrontasi antara Taylor Jackson dan Sheriff John Dogett (Meat Loaf Aday) yang juga tengah memburu Lucille. Di hari demonstrasi itu, Sheriff Dogett mengerahkan timnya dan terjadi bentrokan yang mengakibatkan kematian Taylor Jackson.

Lalu, mengapa di awal tulisan ini saya katakan film ini memiliki selera humor di tengah tragedi. Kita bisa melihatnya dari beberapa hal : Lucille selalu menjawab dengan ringan perihal tas yang dibawanya berisi kepala suaminya tiap kali ada orang bertanya tentang isi tas itu, proses Lucille melarikan diri, juga poster yang menampilkan Lucille sebagai buronan namun ia tampak begitu menawan di poster itu. Sebuah ironi. Humor yang tragis. Atau kisah tragis yang dinikmati sebagai humor?

Film yang diangkat dari novel Mark Childress dengan judul sama “Crazy In Alabama” ini sepintas memang menuturkan beberapa kisah, namun kita dapat melihat benang merahnya dengan jelas. Dengan berbagai cara Lucille dan orang-orang ras kulit hitam di Alabama berjuang untuk hal yang sama : kebebasan.

Hal yang sangat saya catat dari film tersebut adalah monolog Peejoe di akhir film : kau bisa mengubur kebebasan, namun kau tak akan pernah bisa membunuhnya.

Ternyata sampai hari ini, ketidakadilan masih terus terjadi. Kesetaraan melulu menjadi mimpi yang diperjuangkan banyak orang. Kesadaran tentang kita adalah manusia yang memiliki hak sama tidak serta merta bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Dan seperti kata Malcolm X; if you are a man, you (should) take it.

 

Yogyakarta, November 2015

Icha Planifolia

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s