Tumor Payudara : Apakah Itu Sebuah Akhir?


Empat buah tumor baru saja diangkat dari payudara kanannya!

Ia susah payah membuka matanya setelah tak sadarkan diri entah berapa jam. Efek bius total masih membuat perutnya mual dan kepalanya pening. Ia meraba-raba payudara kanannya yang masih dibalut perban. Tak ditemukannya lagi benjolan yang beberapa waktu lalu terasa seperti monster pemakan usianya.

*

early detection

Gambar diambil dari sini

Pertengahan tahun 2015, ia merasa ada yang ganjil dengan payudara kanannya. Kala itu ia tengah berbaring dengan posisi kedua lengan terlipat di bawah kepala. Payudara kanannya terasa demikian nyeri. Sesuatu yang ia rasa tak biasa.

Perlahan-lahan ia melakukan beberapa gerakan yang ia pahami sebagai gerakan SaDaRi (Periksa Payudara Sendiri). Ia menemukan ada benjolan yang dapat bergerak di payudara kanannya. Selain tidak menempel pada jaringan sekitarnya, benjolan tersebut juga terasa nyeri. Nyeri sekali bahkan.

Merasa tidak yakin -atau justru menolak apa yang ditemukannya?- ia meminta temannya yang saat itu kebetulan tengah berada di kamar tidurnya untuk turut memeriksa. Benar saja, temannya menemukan ada benjolan di payudara kanannya. Fakta yang tidak bisa ia elakkan lagi.

Sehari-hari, perempuan itu bekerja di sebuah perusahaan Farmasi. Menangani proyek-proyek yang berhubungan dengan penyakit kanker, salah satu yang menjadi fokusnya adalah proyek terkait diagnosis kanker payudara. Maka, begitu menyadari ada benjolan di payudara kanannya, langsung tergambar peta di kepalanya : benjolan ini bisa saja jinak, bisa pula ganas. Jika jinak,ia berpikir akan operasi dan tumor itu diangkat. Jika ganas, ia akan berjuang hidup berdampingan dengan kanker.

Terdengar mudah diucapkan bukan? Biarlah terdengar begitu. Walaupun diam-diam perasaan takut mati menyelinap juga dalam benak perempuan itu. Ia sempat juga menangis. Menangislah jika dibutuhkan! Begitu bisik batin perempuan itu.

Meninggal karena menderita kanker sama sekali tidak ada dalam rencana hidup atau buku impiannya. Tapi, kemungkinan itu sekarang terpampang jelas di hadapannya. Perempuan itu bahkan belum genap berusia 25 tahun dan masih melajang. Dan saat itu, rasanya maut sudah diambang pintu. Padahal belumlah jelas benjolan di payudara kanannya itu bersifat ganas atau tidak. Berpikir negatif memang lebih mudah daripada mengupayakan berpikir positif, bukan?

Tapi kala itu, ia sungguh-sungguh takut mati!

Ia semakin menyepakati kata-kata Sidartha Gautama : “kemelekatan adalah sumber penderitaan manusia.”

Perempuan itu merasa begitu lekat dan terikat dengan hidup. Terbayang wajah kedua orang tuanya. Wajah keluarga dan teman-teman baiknya. Wajah kekasihnya. Pekerjaan dan cita-citanya. Serta segala hal baik yang pernah ia alami dalam hidup ini bermunculan silih berganti di kepalanya dengan sedemikian cepat. Membuat ia merasa hidup adalah hal yang sangat berharga. Ia merasa banyak hal masih perlu ia lakukan. Ia tidak siap mati!

Semakin ia memikirkan mati, semakin terasa nyeri benjolan itu. Sialan sekali!

Berdamai kadang memang kunci. Terus mengeluh dan mengumpat tidak akan membawanya kemana-mana, ia tahu itu. Ia perlu berdamai dengan keadaan. Sebab takut atau pun tidak, benjolan itu sudah berada di sana, di payudara kanannya. Tidak ada pilihan lain, kecuali menerimanya.

Maka ia mulai menyusun rencana. Kira-kira begini isi kepalanya ketika itu.

Serangkaian pemeriksaan dilakukan. Hasilnya menunjukan bahwa benjolan di payudaranya adalah tumor jinak! Ia perlu menjalani operasi pengangkatan tumor.

Ternyata memiliki asuransi dan kesiapan mental tidak serta-merta menyelesaikan persoalan ketika kamu butuh pelayanan kesehatan. Sebab betapapun perempuan itu merasa siap dan pihak asuransi tak ada masalah untuk menjamin operasi tersebut, ia masih harus menunggu hingga satu bulan lamanya. Mengantre tepatnya.

Dokter Bedah Onkologi yang menanganinya memiliki banyak sekali pasien. Jadi, bukan saja pembagian sembako gratis atau membeli bensin yang perlu mengantre. Operasi pun mesti antre.

Setelah menunggu sekira satu bulan, hari penentuan itu tiba. Perempuan itu tampak cukup ceria hari itu. Walaupun kalian perlu tahu, di benaknya ia mereka-reka jika saja operasi itu gagal, itulah kali terakhir ia melihat wajah Bapak dan Ibunya. Jika saja setelah bius total nanti organ-organ vitalnya gagal berfungsi normal, maka hari itu adalah kali terakhir ia berselisih paham dengan adik semata wayangnya. Terdengar dramatis ya? Demikianlah adanya.

Berbekal pemikiran bahwa “yang mesti terjadi akan terjadi” maka perempuan itu dapat menghadapi operasi dengan tampak tenang cenderung ceria.

*

Ia sudah berganti pakaian dengan pakaian operasi. Dibantu beberapa perawat, ditemani Bapak dan Ibu, dibersamai perasaan nyeri menjadi-jadi di payudara kanannya, ia bergerak menuju ruang operasi.

Perawat di ruang operasi menyambutnya dengan ramah sekali. Ia diminta merebahkan diri di ranjang. Di sampingnya, seorang gadis juga tengah merebahkan diri. Ia taksir usia gadis itu sekitar delapan belas tahun. Keringat sebesar biji-biji jagung menghiasi kening gadis itu.

“Operasi payudara juga?” tanya Perempuan itu. Si Gadis mengangguk dengan senyum dipaksakan. “Saya juga. Everything is gonna be okay.” Perempuan itu tersenyum lebar. Kalimat yang sama ia bisikan berkali-kali pada dirinya sendiri.

Beberapa perawat membawanya ke sebuah ruangan. Di sana terdapat serangkaian peralatan operasi; pisau, gunting, perban, entah apa lagi. Yang paling diingat perempuan itu adalah lampu. Lampu yang persis berada di atas ranjangnya. Lampu sorot yang nanti akan menyoroti bagian tubuhnya ketika pisau-pisau atau gunting-gunting itu menyentuhnya.

Lampu sorot itu benar-benar jadi hal terakhir yang diingatnya…

“Siap ya?” seorang perawat tersenyum. Perempuan itu menarik napas dalam, tersenyum, dan mengangguk mantap. Gesit sekali perawat itu menyuntikkan obat bius.

Cahaya lampu itu benderang sekali sebelum akhirnya gelap.

*

Sekarang di bawah sorot lampu, perempuan itu tengah menuliskan pengalamannya berhadapan dengan tumor payudara. Sekarang -barangkali juga di bawah sorot lampu- Anda tengah membaca pengalaman perempuan itu.

Perempuan itu masih ingat lampu sorot yang terakhir mengantarnya sebelum semuanya gelap, setahun lalu, di kamar operasi. Perempuan itu kini mengerti cahaya terakhir yang dilihatnya adalah harapan yang ia rawat. Diam-diam ia percaya bahwa masalah datang memang untuk diatasi. Kanker tak terkecuali.

Yogyakarta, Juni 2016

Icha Planifolia

Advertisements

2 thoughts on “Tumor Payudara : Apakah Itu Sebuah Akhir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s