[Review] Marlina The Murderer in Four Acts

Marlina The Murderer in Four Acts ini mengisahkan tentang seorang janda yang membunuh para perampok, yang satu di antaranya tidak hanya merampok, tetapi juga memerkosanya. Tak tanggu-tanggung ia memenggal kepala si Perampok dan membawanya menuju kantor polisi. Selanjutnya kisah ini menggambarkan keberanian dan ketangguhan Marlina dalam perjalanan mencari keadilan atas apa yang dialaminya.

Screenshot2_Marlina

Kekerasan Terhadap Perempuan

Adegan Marlina membawa kepala perampok tersebut mengingatkan saya pada film Crazy in Alabama. Dimana Lucille Continue reading

Advertisements

Fight For Freedom : “Crazy in Alabama” Review

Nobody can give you freedom. Nobody can give you equality or justice. If you are a man, you take it.

—Malcolm X

MV5BMTM2MzgwMjEwMl5BMl5BanBnXkFtZTYwMzgxOTE5._V1_SY317_CR1,0,214,317_AL_

Gambar diambil dari sini

 

Tahun Rilis        : 1999

Sutradara           : Antonio Banderas

Durasi                 : 1 jam 51 menit

Diadaptasi dari : Novel “Crazy In Alabama”

Penulis               : Mark Childress

 

 

Crazy In Alabama, film yang disutradarai Antonio Banderas dan pertama kali release tahun 1999 ini memiliki “selera humor” ditengah tragedi. Ada dua kisah utama dalam film ini; Lucille (Melanie Griffith) yang membunuh suaminya yang kasar dan pergi untuk mengejar jalan hidup yang sangat diimpikannya, menjadi aktris dan tampil dalam acara televisi Bewitched (setting tahun 1965), yang selama ini selalu dicegah oleh suaminya dengan berbagai cara. Juga kisah perjuangan orang-orang ras kulit hitam di Alabama untuk memperoleh kesetaraan.

Kedua kisah tersebut dituturkan dari sudut pandang Peejoe (Lucas Black), keponakan Lucille yang berusia 12 tahun. Peejoe mengetahui pembunuhan yang dilakukan Lucille. Bahwa kepala suami Lucille dipenggal dan Continue reading

Renggo Darsono : Ikuti Passion, Maka Jalanmu “Ringan”!

Kopi. Pelengkap percakapan, menyuguhkan perbincangan. Kopi itu selera. Saya masih terus belajar.

Renggo Darsono

Lelaki berkemeja flanel itu tampak tengah mengamati pemasangan instalasi listrik ketika saya tiba di Dongeng Kopi Jogja (11/04). Ia adalah Renggo Darsono, satu dari tiga orang pemilik DKJ (singakatan untuk Dongeng Kopi Jogja) yang berdiri sejak Agustus 2014 lalu. Begitu menyadari kehadiran saya, ia segera menyilakan saya duduk. Kami segera terlibat perbincangan setelahnya, sembari menunggu kopi Linthong yang diseduh dengan teknik pourover pesanan saya datang…

Bersama Renggo dan Mas Jokpin

Bersama Renggo dan Mas Jokpin

Saya tidak ingat persis bagaimana mulanya hingga saya meminta waktu Renggo -begitu saya menyapanya- untuk berbincang sore itu. Tapi, saya ingat bahwa kami pernah berfoto bertiga dengan Joko Pinurbo pada peluncuran buku “Pohon Duka Tumbuh Di Matamu” karya Khrisna Pabhicara. Saya juga ingat bahwa saya jatuh cinta pada Dongeng Kopi Jogja sejak kunjungan pertama. Lalu ide untuk berbincang dengan pemiliknya muncul begitu saja. Ada dorongan yang kuat untuk menuliskan kisahnya. Bukan karena ia “wah” di mata dunia, tapi karena mata saya menangkap sesuatu yang tak biasa, sangat subjektif memang. Nyatanya memang banyak sekali yang dapat saya pelajari darinya. Terlepas dari segala pelajaran itu, satu hal yang sangat patut saya syukuri adalah kami berkawan hingga kini.

Bertemu Renggo hari ini mungkin kamu hanya akan mengetahui bahwa ia adalah salah satu pemilik Dongeng Kopi Jogja (review tentang kedai kopi ini dapat dilihat di sini). Siapa nyana, Renggo bahkan sudah Continue reading

Pohon Duka Tumbuh di Matamu

Hujan yang sempat cukup deras mengguyur Yogyakarta ternyata tidak menyurutkan langkah para pecinta puisi untuk menyambangi Dongeng Kopi, rabu (26/03) lalu. Pasalnya malam itu digelar perayaan buku puisi ‘Pohon Duka Tumbuh di Matamu’ karya Khrisna Pabichara, penyair -walaupun secara personal konon Khrisna Pabichara tidak pernah menahbiskan diri sebagai penyair- asal Makasar yang kini menetap di Bogor, dan dikenal luas telah menjadikan rindu lebih lezat untuk diperbincangkan.

Diskusi_Pohon_Duka_Tumbuh_di_Matamu[1]

Walaupun buku puisi ‘Pohon Duka Tumbuh di Matamu’ ini telah diterbitkan oleh Indie Book Corner sejak 2014 lalu, namun baru Maret 2015 ini sempat dirayakan. “Khrisna ini sibuk sekali.” kelakar Irwan Bajang, pimpinan pasukan kuli buku Indie Book Corner, yang sekaligus menjadi moderator diskusi malam itu. Perayaan buku puisi ini semakin menarik karena kaca pandang Joko Pinurbo yang unik dalam membedah buku puisi kedua Khrisna Pabichara ini.

Ya, bisa dikatakan ‘Pohon Duka Tumbuh di Matamu’ ini adalah kumpulan puisi kedua Khrisna Pabichara, seperti disampaikannya ketika ditanya mengenai jejak kepenyairannya, “Saya memang lebih dulu meluncurkan buku kumpulan cerpen dan novel, dibanding melansir kumpulan puisi. Tetapi tidak banyak yang tahu bahwa Continue reading

What is Poetry?*

: didedikasikan untuk Hari Puisi Sedunia, 21 Maret

Every poem is unique but each reflects the universal in human experience, the aspiration for creativity that across all bounderies and borders, of time as well space, in the constant affirmation of humanity as single family

—Irina Bokova, General Director of UNESCO

 

LANGIT sedang cerah-cerahnya, sayang sekali jika kita lewatkan begitu saja. Kuharap kau tengah punya cukup waktu siang ini, agar kita dapat saling mentraktir sebuah percakapan panjang. Ya, aku tahu percakapan ini belum tentu menyenangkan, tetapi percayalah, ini layak untuk kita bincangkan. Bisa kita mulai sekarang?

Aku ingin bercerita tentang puisi. Lupakan tentang siapa aku, karena nyatanya aku bukan siapa-siapa. Anggap saja aku hanya pemuja puisi yang mulai sok tahu mengoceh tentang tetek bengek puisi siang ini. Aku pernah mendengar, puisi dipercaya sebagai sebuah penegasan atas kemanusiaan kita, bahwa individu -dimana pun- berbagi pertanyaan dan perasaan yang sama. Selama berabad-abad puisi dapat mengkomunikasikan nilai-nilai terdalam beragam budaya. Sebagai tradisi lisan -pada mulanya- yang dimiliki oleh hampir semua masyarakat di dunia, puisi sering kali mampu menjabarkan perasaan tanpa dibatasi apa pun. Apakah kau juga percaya itu?

Hmm…ingatkah kau pada tahun 1999, tepatnya bulan Oktober-November, terjadi sebuah pertemuan. Pertemuan itu berlangsung selama 30 hari. Saat itulah Continue reading