Kisah dari Mapetah Suei Nyumat

Lewu Hante-resize

Lewu Hante

 

Menyusuri jalanan Kalimantan yang panas dan berdebu, dengan rumah-rumah yang terlihat seadanya di kiri-kanan jalan, dengan sungai yang tampak kian coklat di tepi jalan, serupa menyaksikan barisan demonstran dengan kritik paling pedas atas pemerataan pembangunan. Barangkali masyarakat di sini merasa baik-baik saja dengan jalanan yang tidak terlalu besar, dengan angkutan umum yang nyaris tak tampak, dengan harus mengantri membeli bensin walau tempat ini adalah salah satu sumber bahan bakar itu sendiri, barangkali. Tapi, bukankah itu menjadi tidak adil bagi mereka? Saya menghembuskan napas kuat-kuat, sekadar menepis resah yang tiba-tiba saja datang. Sementara motor yang saya tumpangi masih melaju dengan kecepatan sedang.

Setelah bermotor sekira satu jam dari pusat kota Tabalong, Kalimantan Selatan,  akhirnya saya tiba di perbatasan Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah. Saya memandangi langit Desa Pasar Panas, Barito Timur, Kalimantan Tengah, yang hari itu Continue reading

Uka-Uka Jangkung*

Ketika tiba di Desa Jangkung, Kecamatan Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, matahari sedang garang-garangnya bersinar. Namun hari yang terik bukanlah waktu tepat untuk sunbathing dan meneguk kelapa hijau muda di tepi pantai, setidaknya demikian bagi lelaki-lelaki penambang pasir itu.

Bagi mereka hari yang terik adalah saatnya bekerja keras, mengumpulkan sebanyak mungkin pasir yang dapat diangkut ke dalam truk-truk bercat kuning. Semakin banyak pasir yang dapat mereka kumpulkan, tentu semakin baik. Sebab berapa banyak jatah makan hari itu amat bergantung pada jumlah pasir yang dapat dikumpulkan.

“Kita ini Uka-Uka, Mbak.” kata salah seorang dari mereka sembari tertawa geli. Saya menanggapinya dengan ekspresi kebingungan. Dari televisi, saya mengenal Uka-Uka sebagai salah satu makhluk antagonis yang tak sedap di pandang mata. Seorang lainnya akhirnya menjelaskan bahwa Uka merupakan kependekan dari Usaha Karangan. Karangan dalam Bahasa Banjar berarti pasir. Begitulah para penambang pasir itu menyebut diri mereka. Maka, selamat datang di salah satu tepian Sungai Tabalong, tempat Uka-Uka gigih bekerja!

DSCN1971 resize

Penambang pasir Desa Jangkung tengah gigih bekerja | Tabalong, Kalimantan Selatan

 

Continue reading

[Published] Puisi-Puisi Icha Planifolia*

Prolog untuk Nay

 

ini malam, Nay, akan kuceritakan padamu

apa pasal lelaki itu menjadi isi kepalaku melulu.

Hanya malam ini, jadi kau harus dengarkan!

 

di bulan November yang basah,

malam hadir dengan gelisah,

mungkin karena sudah lama aku tak punya alasan

mengeluarkan desah,

atau karena dia bernapsu kian parah.

 

ciuman sembunyi-sembunyi jadi terasa terlalu pagi,

Continue reading

Ada Tuhan di Jengkal Jejak*

: Untuk Afdal Hakim

Gambar diambil dari sini

Sebuah puisi baru saja bertolak bersama deru kereta

masih juga mengurai kisah purba

perjalanan manusia

Bukan tentang mencari Tuhan

bukan pula mencari diri

tapi tentang menemukan

juga melepaskan

 

Tak ada jubah yang perlu kita pakai

hingga gerah kita punya badan,

tak ada topeng yang perlu kita pasang

hingga kaku kita punya wajah,

tak perlu…

 

Pada keyakinan yang paling baja hidupmu kau sandarkan

Tuhan tak pernah menelantarkan, selalu katamu

 

Tak ada lagi perbincangan tentang rasa takut

barangkali kau melarungnya di tepi sungai,

atau menghembuskannya bersama debu jalan

kau…keberanian itu sendiri

kaulah mantra doa yang mustajab

penawar gigil masa depan yang semula tampak menakutkan

 

Kereta Pasundan, 2013

*) Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 10 November 2013