Fight For Freedom : “Crazy in Alabama” Review

Nobody can give you freedom. Nobody can give you equality or justice. If you are a man, you take it.

—Malcolm X

MV5BMTM2MzgwMjEwMl5BMl5BanBnXkFtZTYwMzgxOTE5._V1_SY317_CR1,0,214,317_AL_

Gambar diambil dari sini

 

Tahun Rilis        : 1999

Sutradara           : Antonio Banderas

Durasi                 : 1 jam 51 menit

Diadaptasi dari : Novel “Crazy In Alabama”

Penulis               : Mark Childress

 

 

Crazy In Alabama, film yang disutradarai Antonio Banderas dan pertama kali release tahun 1999 ini memiliki “selera humor” ditengah tragedi. Ada dua kisah utama dalam film ini; Lucille (Melanie Griffith) yang membunuh suaminya yang kasar dan pergi untuk mengejar jalan hidup yang sangat diimpikannya, menjadi aktris dan tampil dalam acara televisi Bewitched (setting tahun 1965), yang selama ini selalu dicegah oleh suaminya dengan berbagai cara. Juga kisah perjuangan orang-orang ras kulit hitam di Alabama untuk memperoleh kesetaraan.

Kedua kisah tersebut dituturkan dari sudut pandang Peejoe (Lucas Black), keponakan Lucille yang berusia 12 tahun. Peejoe mengetahui pembunuhan yang dilakukan Lucille. Bahwa kepala suami Lucille dipenggal dan Continue reading

Advertisements

Poetry Brings Stories*

Barangkali bagimu puisi hanya

segerombol kata-kata untuk merayu pujaan hati

atau simbol-simbol yang bahkan

tak sempat sang penyair pahami

 

Barangkali bagimu malam hanya

tentang waktu setelah jingga senja menghilang

atau waktu ketika gereja kecil pulang ke sarang

setelah demikian lelah terbang

 

Diantara gigil kesepian

puisi dan malam adalah kawan

diantara keresahan yang mengakar

puisi dan malam dalah bahan bakar

kau tidak pernah mengerti

betapa puisi menyelamatkan

betapa malam menghangatkan

kau telah terlalu sibuk

dan puisi telah lebih dulu berlayar

ia berdenyar

dan malam menghingar

 

Ia adalah hulu dan muara

tempat kami bersitatap dengan makna

dengan rasa

dengan

cinta.

 

 

*) Didedikasikan untuk 2nd Anniversary Malam Puisi Bandung

Beseang

: L.A.A.

Gambar diambil dari sini

aku memanen bau pagi di punggungmu

aroma yang akan kuingat, tanpa kenal waktu

karena padanya…

ada lelapmu, ada lelapku

ada pelukmu, ada pelukku

ada kecupmu, ada kecupku

 

kini hari sudah terang

dan aku sibuk bertanya, “Kapan pagi datang?”

tak ada bau pagi yang kukenal

tak ada punggungmu yang lautan

tempat aku melarung segenap kepercayaan

tempat aku mengukuhkan keberanian

 

Yogyakarta, 2015

Icha Planifolia

Kepada Perempuanku

: teman seperjalanan terbaik

Aku tahu telah dengan tak tahu malu mengabaikanmu sekian lama. Sore ini, aku datang untuk sekadar menengok dan bertanya kabarmu. Juga menyampaikan beberapa hal.

Gambar diambil dari sini

Perempuanku,

Ada hal-hal di hidup ini yang tak bisa lagi kita ubah, karena kita sudah tak lagi berada pada peristiwa itu. Kita sudah bergerak. Berderap bersama waktu. Dan semua sudah tercatat. Itulah masa lalu.

Seperti yang sangat kau tahu, aku orang yang gemar membuat perhitungan. Namun, ternyata ada hal-hal di hidup ini yang hanya perlu kita terima. Aku melulu bocah dengan emosi meledak-ledak dan pendendam. Dan kau melulu menjadi penyabar dan mengingatkanku tentang penerimaan. Tentang berdamai.

Terima kasih, Perempuanku.

Terima kasih telah menjadi demikian tabah. Memercayai isi kepalaku saat yang lain enggan, bahkan untuk sekadar mendengarkan. Menerima segala yang telah kulalui dan memandangnya sebagai pembelajaran ketika yang lain Continue reading

Menuju Damai

Gambar diambil dari sini

 

Setiap orang pasti mengalami ragam peristiwa dalam hidup ini. Susah. Senang. Bahagia. Kecewa. Pertemuan. Kehilangan. Dengan bentuknya yang berbeda-beda. Dengan dampaknya yang berbeda-beda.

Suatu kali, saya bertanya pada diri sendiri, mengapa di hidup ini orang kerap menderita?

Bukan mesti melulu bahagia, karena itu tidak mungkin. Bukan harus berlari dari persoalan yang berakibat kekecewaan atau kesedihan, karena itu juga tidak mungkin. Tapi, saya sungguh ingin tahu perihal akar dari penderitaan.

Bukankah kehilangan harta karena kebakaran, kebanjiran, atau kecurian, hanya bentuk? Bukankah berduka karena kematian ibu, perceraian, atau berpisah dengan kekasih, juga hanya bentuk? Bukankah mengalami kesulitan karena tak kunjung mendapat pekerjaan atau justru diberhentikan dari tempat bekerja, adalah juga hanya bentuk? Tapi, inti dari itu semua tetap sama : penderitaan.

Apa yang membuat kita demikian menderita saat kehilangan harta? Demikian berduka saat Continue reading