Poetry Brings Stories*

Barangkali bagimu puisi hanya

segerombol kata-kata untuk merayu pujaan hati

atau simbol-simbol yang bahkan

tak sempat sang penyair pahami

 

Barangkali bagimu malam hanya

tentang waktu setelah jingga senja menghilang

atau waktu ketika gereja kecil pulang ke sarang

setelah demikian lelah terbang

 

Diantara gigil kesepian

puisi dan malam adalah kawan

diantara keresahan yang mengakar

puisi dan malam dalah bahan bakar

kau tidak pernah mengerti

betapa puisi menyelamatkan

betapa malam menghangatkan

kau telah terlalu sibuk

dan puisi telah lebih dulu berlayar

ia berdenyar

dan malam menghingar

 

Ia adalah hulu dan muara

tempat kami bersitatap dengan makna

dengan rasa

dengan

cinta.

 

 

*) Didedikasikan untuk 2nd Anniversary Malam Puisi Bandung

Advertisements

Beseang

: L.A.A.

Gambar diambil dari sini

aku memanen bau pagi di punggungmu

aroma yang akan kuingat, tanpa kenal waktu

karena padanya…

ada lelapmu, ada lelapku

ada pelukmu, ada pelukku

ada kecupmu, ada kecupku

 

kini hari sudah terang

dan aku sibuk bertanya, “Kapan pagi datang?”

tak ada bau pagi yang kukenal

tak ada punggungmu yang lautan

tempat aku melarung segenap kepercayaan

tempat aku mengukuhkan keberanian

 

Yogyakarta, 2015

Icha Planifolia

Kepada Perempuanku

: teman seperjalanan terbaik

Aku tahu telah dengan tak tahu malu mengabaikanmu sekian lama. Sore ini, aku datang untuk sekadar menengok dan bertanya kabarmu. Juga menyampaikan beberapa hal.

Gambar diambil dari sini

Perempuanku,

Ada hal-hal di hidup ini yang tak bisa lagi kita ubah, karena kita sudah tak lagi berada pada peristiwa itu. Kita sudah bergerak. Berderap bersama waktu. Dan semua sudah tercatat. Itulah masa lalu.

Seperti yang sangat kau tahu, aku orang yang gemar membuat perhitungan. Namun, ternyata ada hal-hal di hidup ini yang hanya perlu kita terima. Aku melulu bocah dengan emosi meledak-ledak dan pendendam. Dan kau melulu menjadi penyabar dan mengingatkanku tentang penerimaan. Tentang berdamai.

Terima kasih, Perempuanku.

Terima kasih telah menjadi demikian tabah. Memercayai isi kepalaku saat yang lain enggan, bahkan untuk sekadar mendengarkan. Menerima segala yang telah kulalui dan memandangnya sebagai pembelajaran ketika yang lain Continue reading

Menuju Damai

Gambar diambil dari sini

 

Setiap orang pasti mengalami ragam peristiwa dalam hidup ini. Susah. Senang. Bahagia. Kecewa. Pertemuan. Kehilangan. Dengan bentuknya yang berbeda-beda. Dengan dampaknya yang berbeda-beda.

Suatu kali, saya bertanya pada diri sendiri, mengapa di hidup ini orang kerap menderita?

Bukan mesti melulu bahagia, karena itu tidak mungkin. Bukan harus berlari dari persoalan yang berakibat kekecewaan atau kesedihan, karena itu juga tidak mungkin. Tapi, saya sungguh ingin tahu perihal akar dari penderitaan.

Bukankah kehilangan harta karena kebakaran, kebanjiran, atau kecurian, hanya bentuk? Bukankah berduka karena kematian ibu, perceraian, atau berpisah dengan kekasih, juga hanya bentuk? Bukankah mengalami kesulitan karena tak kunjung mendapat pekerjaan atau justru diberhentikan dari tempat bekerja, adalah juga hanya bentuk? Tapi, inti dari itu semua tetap sama : penderitaan.

Apa yang membuat kita demikian menderita saat kehilangan harta? Demikian berduka saat Continue reading

Kain-Kain Inaq* Rusli

Kebaya hijau dengan model kutu baru dan kain tenun Lombok membalut tubuh saya pagi itu. Lelaki saya baru saja menuntaskan pendidikannya, gelar sarjana akan disematkan di belakang namanya. Saya akan menemaninya untuk hari bahagia itu. Cukup lama saya mematut diri di cermin. Mata saya tertuju pada kain yang saya kenakan. Kain yang membawa saya kembali ke Pantai Kuta, Lombok tengah…

Menghadiri wisuda bersama kain tenun Lombok 🙂

Matahari tengah bersinar dengan garang kala saya dan seorang kawan memutuskan bermotor dari Lendang Nangka, Lombok Timur, menuju Pantai Kuta di Lombok Tengah. Saya menemukan pantai yang –seperti kebanyakan pantai di Lombok- cantik, pasir yang seperti butir-butir ketumbar, dan homestay yang berderet di sepanjang jalan.

Entah karena matahari bersinar demikian garang atau karena hari itu bukanlah musim liburan sehingga hampir tak ada sesiapa di sepanjang pantai. Kami berkeliling sejenak mencari-cari tempat yang tepat untuk memarkir motor karena tak kunjung menemukan penanda area parkir. Beruntung kami bertemu seorang penjaga homestay baik hati yang mempersilakan kami menitipkan motor di sana.

Persis ketika kami hendak beranjak menyusuri pantai, seorang perempuan bertelanjang kaki menghampiri kami. Ia tersenyum walau terlihat demikian kepanasan. Di punggungnya Continue reading