Pohon Duka Tumbuh di Matamu

Hujan yang sempat cukup deras mengguyur Yogyakarta ternyata tidak menyurutkan langkah para pecinta puisi untuk menyambangi Dongeng Kopi, rabu (26/03) lalu. Pasalnya malam itu digelar perayaan buku puisi ‘Pohon Duka Tumbuh di Matamu’ karya Khrisna Pabichara, penyair -walaupun secara personal konon Khrisna Pabichara tidak pernah menahbiskan diri sebagai penyair- asal Makasar yang kini menetap di Bogor, dan dikenal luas telah menjadikan rindu lebih lezat untuk diperbincangkan.

Diskusi_Pohon_Duka_Tumbuh_di_Matamu[1]

Walaupun buku puisi ‘Pohon Duka Tumbuh di Matamu’ ini telah diterbitkan oleh Indie Book Corner sejak 2014 lalu, namun baru Maret 2015 ini sempat dirayakan. “Khrisna ini sibuk sekali.” kelakar Irwan Bajang, pimpinan pasukan kuli buku Indie Book Corner, yang sekaligus menjadi moderator diskusi malam itu. Perayaan buku puisi ini semakin menarik karena kaca pandang Joko Pinurbo yang unik dalam membedah buku puisi kedua Khrisna Pabichara ini.

Ya, bisa dikatakan ‘Pohon Duka Tumbuh di Matamu’ ini adalah kumpulan puisi kedua Khrisna Pabichara, seperti disampaikannya ketika ditanya mengenai jejak kepenyairannya, “Saya memang lebih dulu meluncurkan buku kumpulan cerpen dan novel, dibanding melansir kumpulan puisi. Tetapi tidak banyak yang tahu bahwa Continue reading

Advertisements

What is Poetry?*

: didedikasikan untuk Hari Puisi Sedunia, 21 Maret

Every poem is unique but each reflects the universal in human experience, the aspiration for creativity that across all bounderies and borders, of time as well space, in the constant affirmation of humanity as single family

—Irina Bokova, General Director of UNESCO

 

LANGIT sedang cerah-cerahnya, sayang sekali jika kita lewatkan begitu saja. Kuharap kau tengah punya cukup waktu siang ini, agar kita dapat saling mentraktir sebuah percakapan panjang. Ya, aku tahu percakapan ini belum tentu menyenangkan, tetapi percayalah, ini layak untuk kita bincangkan. Bisa kita mulai sekarang?

Aku ingin bercerita tentang puisi. Lupakan tentang siapa aku, karena nyatanya aku bukan siapa-siapa. Anggap saja aku hanya pemuja puisi yang mulai sok tahu mengoceh tentang tetek bengek puisi siang ini. Aku pernah mendengar, puisi dipercaya sebagai sebuah penegasan atas kemanusiaan kita, bahwa individu -dimana pun- berbagi pertanyaan dan perasaan yang sama. Selama berabad-abad puisi dapat mengkomunikasikan nilai-nilai terdalam beragam budaya. Sebagai tradisi lisan -pada mulanya- yang dimiliki oleh hampir semua masyarakat di dunia, puisi sering kali mampu menjabarkan perasaan tanpa dibatasi apa pun. Apakah kau juga percaya itu?

Hmm…ingatkah kau pada tahun 1999, tepatnya bulan Oktober-November, terjadi sebuah pertemuan. Pertemuan itu berlangsung selama 30 hari. Saat itulah Continue reading

Kopi Beraroma Rindu

IMG_20140719_181524

Jadi kapan kita kembali menikmati kopi? Tidakkah kamu juga rindu?

Seorang teman berbaik hati mengajakku untuk hadir di acara open store Starbucks. Di bilangan Megaria. Pastilah kamu akan familiar dengan gedung bioskop yang sudah demikian lama berdiri, XXI Metropole. Ya, di sana baru saja dibuka gerai Starbucks.

Berbeda dengan kebanyakan gerai Starbucks, aku mendapatkan kesan homy saat baru saja masuk di gerai ini. Menyesuaikan dengan desain gedung XXI Metropole, gerai Starbucks ini didesain cenderung Continue reading

Poetry : Healing your soul!

Aside

Aku ingin merayakan hari ini bersamamu. Sebab kau adalah puisi yang maknanya tak pernah tuntas kudedah…

Pada 21 Maret 1999, UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) mendeklarasikan World Poetry Day. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan minat masyarakat dalam membaca, menulis, dan mempublikasikan puisi. Juga mengajar hal-hal terkait puisi.

Dan di sinilah kita hari ini. Hari puisi sedunia. Mari berbahagia, mari bermain kata!

Malam Puisi Bandung

Aku jatuh cinta pada komunitas Malam Puisi. Malam Puisi Bandung khususnya. Tagline nya yang sederhana justru menjadi barang mewah bagiku : datang, dengar, dan bacakan puisimu!

Malam Puisi pertama kali diadakan di Bali. Tak dinyana semangat Malam Puisi terus menular ke kota-kota lain (selengkapnya bisa dilihat di http://www.malampuisi.wordpress.com). Di Bandung sendiri, Malam Puisi sudah diadakan lima kali. Rutin setiap bulan.

Bisa terlibat sebagai salah satu penggerak Malam Puisi Bandung adalah berkah. Bagi saya, Malam Puisi Bandung adalah wadah yang sangat berharga. Mendorong untuk tak henti berkarya. Juga terus menebar semangat berpuisi. Selain juga sebagai terapi. 🙂

Terapi? Ya, terapi. Karena ternyata puisi memang bisa memengaruhi emosi. Atau sebaliknya, kita bisa mengendalikan emosi dengan berpuisi.

Simak pendapat Pradopo : Dengan menggunakan media bahasa, puisi mengekpresikan pemikiran, yang membangkitkan perasaan, merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.

Pemaknaan puisi jika dilakukan secara tepat, sanggup melahirkan perasaan baru yang positif. Membentuk motivasi.

Saya termasuk orang dengan kondisi fisik yang rentan. Dan sebagian besar masalah fisik, bisa bersumber justru dari kejiwaan. Puisi adalah salah satu media yang -bagi saya- menyehatkan jiwa. Melembutkan hati. Mengantar saya kembali pada pernyataan : bahagia itu sederhana. Betapa tidak, dengan menulis puisi, berkumpul dengan kawan di Malam Puisi, kemudian saling share membacakan karya tersebut, to be honest itu membahagiakan! Sesederhana itu.

Baiklah, kiranya saya ingin berterima kasih kepada para Penggagas Malam Puisi. Ide kalian mengagumkan! 🙂

Saya juga ingin berterima kasih kepada para Penggerak Malam Puisi Bandung. Terima kasih memberi saya rumah baru yang nyaman. Tempat saya bisa terus tumbuh dan berkarya. Kalian juga mengagumkan! 🙂

Akhirnya, saya ucapkan selamat hari puisi sedunia! Mari berbahagia, mari bermain kata!

 

-Icha Planifolia-

 

 

 

Pelestarian Lingkungan Bersama Blogger

Dewasa ini permasalahan mengenai air cukup meresahkan. Indonesia yang notabene adalah kawasan vulkanik, merupakan tangki raksasa untuk menampung air, baik di permukaan maupun di bawah tanah. Tapi, kita bisa lihat beberapa (atau banyak) daerah di Indonesia yang kesulitan mendapat air bersih. Tidak sedikit warga yang harus membeli air, selain jumlahnya terbatas harganya pun tak bisa dibilang murah. Sebagai bentuk kepeduliaan terhadap hal tersebut, PT. Tirta Investama Cianjur, dengan Aqua sebagai merek dagang produknya, hari itu mengadakan bincang “Pelestarian Lingkungan Bersama Blogger”. Sekira 20 Blogger Bandung bertolak menuju Cianjur pagi itu, sabtu (14/09). Hari itu menjadi pengalaman langka, sekaligus berharga bagi kedua puluh blogger tersebut. Saya tentu merasa sangat beruntung menjadi satu diantaranya.

Bincang-bincang mengenai pelestarian lingkungan dengan fokus utama pelestarian air ini dibuka dengan fakta yang miris. Bumi ini 97% terdiri dari air. Tapi, dewasa ini fresh water atau air bersih hanya tinggal 2,5% saja, sisanya adalah air permukaan  (maka seringkali terjadi banjir).

Continue reading