Cerita Buat Para Kekasih

: Anda, Agus Noor, dan “Cerita Buat Para Kekasih”

Inilah bukti bahwa cinta demikian universal. Bisa jatuh dimana saja. Maka inilah Saya yang jatuh cinta pada “Cerita Buat Para Kekasih” karya Agus Noor.

Jpeg Judul               : Cerita Buat Para Kekasih

Penulis            : Agus Noor

Penebit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Paginasi          : x + 277 hlm.

Tahun Terbit   : November 2014 (Cetakan pertama)

Buku ini bukan ‘dongeng’ biasa. Bahkan jika Anda memiliki kekasih yang menceritakan kisah-kisah seperti yang dilakukan Agus Noor dalam buku ini, Anda akan merasa tercerahkan juga merasa kekasih Anda ‘sakit’ di waktu bersamaan. Tidak karena cerita ini ditujukan untuk para kekasih lalu isinya melulu tentang cinta yang dapat membuat seseorang rela mendaki gunung dan menyebrang lautan, jangan salah sangka!

Saya sendiri merasa inilah kegelisahan Agus Noor menghadapi realita yang berpadu dengan Continue reading

Advertisements

[Review] Tato Naga

Jpeg

Judul Buku     : Tato Naga (Kumpulan Cerpen)

Penulis            : Teguh Winarso AS

Penerbit         : Grasindo

Paginasi          : viii+110 hal.

Tahun Terbit : 2005 (Cetakan Pertama)

Teguh Winarso memilih Tato Naga sebagai judul kumpulan cerpennya. Sejujurnya saya penasaran, mengapa judul itu dipilih? Mungkin judul tersebut diambil dari salah satu judul cerpennya : “Tato Naga dan Inisial SL”. Barangkali cerpen ini memiliki ikatan emosi kuat dengan penulis atau dirasa itulah cerpen terbaik dari sekian cerpen yang tersaji, dan alasan-alasan lain yang sangat mungkin dimiliki oleh Teguh Winarso.

Baiklah kita lupakan hal yang melatarbelakangi pemilihan judul tersebut, mari kita menyoroti Si Judul itu sendiri : Tato Naga yang -dalam asumsi saya- diambil dari cerpen “Tato Naga dan Inisial SL”. Cerpen ini merupakan kisah cinta antara seorang gadis Tionghoa dengan seorang preman pasar, yang konon kerap memeras di toko-toko milik orang Tionghoa, termasuk toko milik orang tua Si Gadis. Terang saja kisah cinta tersebut harus dijalani secara sembunyi-sembunyi, karena barang tentu orang tua Si Gadis tak menyetujuinya. Lantaran merasa kisah cintanya buntu, Si Preman Pasar memutuskan menggantung diri di pohon waru. Saat jenazahnya diturunkan, terkuak fakta bahwa tato keris di dada Si Preman telah berubah menjadi tato naga. Ditemukan pula sepucuk surat cinta yang ditujukan kepada seseorang berinisial SL.

Sebagai pembaca, mungkin kita akan merasa : “Ah kisah cinta picisan! Apa yang istimewa?” Tunggu dulu, mari kita luangkan waktu sejenak untuk menilik lebih dalam dan menemukan betapa luar biasa Teguh Winarso menggarap cerpen tersebut!

Continue reading

[Review] Harga Perempuan

P_20141028_020550

Judul Buku                 : Harga Perempuan (Kumpulan Cerpen)

Penulis                        : Sirikit Syah

Penerbit                     : Pustaka Pelajar

Paginasi                      : xx + 228 hlm.

Tahun Terbit             : 1999 (Cetakan Kedua)

Walau kadang dikatakan usang, namun cinta masih saja terdengar seksi untuk diperbincangkan. Tak ada habisnya jika mendedah tentang cinta, entah secara terminologi, etimologi, atau filosofi. Tak habis-habis.  Perbincangannya kerap bermuara pada satu hal : tak mudah memahami cinta. Buktinya? Salah satu bentuk kompleks dari cinta tergambar jelas dalam cerpen “Asmara Ibuku”.

Nita dan Ani dikagetkan oleh penuturan Ibu : dirinya akan bercerai dengan Bapak. Setelah puluhan tahun bersama. Bahkan usia Ibu sudah tak lagi muda, 48 tahun! Selama ini Bapak memang jarang di rumah. Pekerjaan membuat Bapak hanya pulang beberapa hari, lalu pergi kembali selama berbulan-bulan. Terus begitu selama bertahun-tahun. Praktis segala kesulitan harus Ibu atasi seorang diri. Jika itu masalahnya, kenapa baru hari ini mereka bercerai?

Ternyata cinta tak cukup mampu membuat dua orang untuk terus bersama. Lebih penting dari itu adalah rasa membutuhkan. Bertahun-tahun ditinggal sendiri menghadapi ragam kenyataan hidup membuat Ibu teramat biasa tanpa Bapak. Hingga tak lagi merasa Bapak perlu ada. Yang lebih mengagetkan Nita dan Ani, perceraian itu sudah direncanakan sejak bertahun-tahun tahun lalu. Ibu dan Bapak memertahankan pernikahan sampai Nita, Si Bungsu, menikah. Selama itu pula, Ibu telah memiliki hubungan dengan Oom Han, namun bertahan tidak menunjukkannya, bertahan bersikap biasa-biasa saja hingga semua dirasa tepat. Bapak rela melepas Ibu untuk kemudian menikah dengan Oom Han. “Selama ini Mama bertahan karena ingin melihat saya dan anak-anak bahagia. Kini sudah waktunya bagi kami (aku, Ani, dan Nita) memberi Mama kesempatan mengejar kebahagiaan yang tertinggal.” Begitu kata Bapak. Betapa luar biasa relasi yang mereka bangun. Bukan saja menyayangi, tapi mereka saling mengerti. Sangat mengerti.

Pengertian. Mengerti adalah kata yang ringan di lidah, namun berat dalam tindakan. Dalam sebuah relasi; laki-perempuan, suami-istri, hal itu lebih dari sekadar dibutuhkan. Walau sekali lagi, demikian berat dalam tindakan. Ternyata tak semua hal dapat kita maklumi, dapat kita mengerti. Mendengar pasangan menyebut nama perempuan lain saat tubuh kita tengah asik saling bertandang misalnya, mudahkah kita memaklumi? Minimal kita seketika batal birahi, bukan begitu? Cerpen “Perempuan Suamiku” adalah gambaran yang cukup menohok, tapi itu realita.

Continue reading

[Review] Overture : Sebuah lagu kala mendung

P_20140830_170322Judul               : Overture (Sebuah lagu kala mendung)

Penulis            : Disa Tannos

Penerbit         : Sekata Media

Tebal              : 192 hlm.

Setiap hari, pukul sebelas malam, Kavi Arakata Sugandi mengirim pesan yang tak pernah diterima.

Begitu Disa Tannos membuka ‘lagu kala mendung’nya. Kalimat yang nyaris tak menemukan logikanya : bagaimana mungkin seseorang mengirim pesan yang tak pernah diterima? Jika sesuatu dikirim, semestinya ada yang menerima, bukan? Apa pula maksud Disa?

Saya rasa Disa tahu, ia tengah bertaruh saat membuat kalimat pembuka tersebut. Dan saya kira, sebagian besar pembaca akan mengikuti rasa ingin tahu demi menemukan logika dari kalimat pembuka yang masih menggantung tersebut. Semua menjadi utuh setelah seluruh paragraf pertama tuntas dibaca :

Setiap hari, pukul sebelas malam, Kavi Arakata Sugandi mengirim pesan yang tak pernah diterima. Ia tak peduli. Ia yakin suatu hari yang tak lama lagi pesannya akan sampai, puluhan pesan dalam waktu tak sampai satu menit. Lalu, Rena, perempuan yang ditunggunya itu, barangkali sembari sarapan di sebuah tempat yang tidak dikenalnya, atau menonton televisi akan membaca semuanya. Satu per satu. Lalu pulang karena rindu.

 

Setelah tuntas satu paragraf, kalimat tersebut menemukan logikanya. Sekaligus Disa sudah membeberkan inti Overture. Tentu tidak mudah bagi Disa untuk terus membuat pembaca bertahan menuntaskan Overture hingga halaman terakhir. Apa yang istimewa dari kisah penantian seorang lelaki yang ditinggal perempuan yang dicintainya, lalu memilih bersetia? Terdengar klise, bukan?

Namun, kepiawaian Disa berkata-kata mampu menggugurkan kesan klise dari tema jatuh cinta dan patah hati. Kita semua tahu tema tersebut demikian mainstream, dan Disa mengambil tantangan itu. Jika kita diposisikan sebagai HRD di sebuah perusahaan, tentu sudah teramat biasa menerima surat lamaran pekerjaan. Umumnya para pelamar mengirim surat lamaran dibalut amplop coklat, rapi dan resmi. Lalu, Disa datang sebagai ‘pelamar’ yang mengirimkan surat lamaran berbalut amplop merah muda dan berpita ungu. Terlalu menarik untuk diabaikan, bukan?

Begitulah Disa memperlakukan tema jatuh cinta dan patah hati. Walau kita sangat bisa menebak alurnya, tapi itu tak membuat kita berhenti sebelum halaman terakhir. Kita akan lupa bahwa kisah semacam ini sudah ratusan kali ditulis orang.

Ibarat seorang barista, Disa sangat tahu kapan harus membubuhkan cukup banyak gula atau tetap membiarkan kopi didominasi rasa pahit. Ya, ia teramat piawai berkata-kata. Kepiawaiannya –diantaranya- terlihat pada catatan-catatan harian tokoh Kei. Mari kita tengok!

Raka, aku pernah begitu yakin bahwa patah hati adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan. Lalu, aku bertemu kau. Sebentar. Dan keyakinan tersebut dipatahkan oleh patah hatiku sendiri. Siapa sangka rasanya bisa begini pahit bagi dada dan punggungku yang sejak awal sudah penuh hujan?

Namun, bukankah kita belajar banyak dari sebuah pertemuan yang singkat? Setidaknya, aku belajar bahwa kesedihan juga perlu kebebasan bersuara. Bahwa jatuh cinta tak sepenuhnya biasa saja. Bahwa kita tak pernah dapat memilih ingin jatuh di tubuh siapa. Orang asing yang belum pernah kita temui. Atau yang selama ini begitu dekat atau yang sudah terlebih dahulu dimiliki.

-dst-

 

Bagi saya, Overture ibarat kopi dengan racikan yang demikian pas. Kopi hitam biasa. Bisa kita temukan dimana saja. Tapi, racikannya yang demikian pas membuat saya ingin meminumnya hingga tandas.

Masih secara pribadi, Overture juga membawa efek kontemplatif. Bukankah begitu semestinya sebuah tulisan, saat kita tuntas membaca sesungguhnya tulisan itu belum tuntas di benak kita? Membawa kita pada ruang kontemplasi. Satu diantaranya –dan ini sungguh sangat personal- adalah Disa mengingatkan kita untuk selesai dengan diri sendiri terlebih dahulu. Saya jadi ingat sebuah kalimat yang entah disampaikan oleh siapa : bagaimana mungkin kita bisa bahagia bersama orang lain, jika kita tak cukup mampu berbahagia kala sendirian?

Sepintas, pesan itu teramat biasa. Kebanyakan kita sudah tahu. Tapi, bukankah kita kerap lupa? 🙂

Maka, selamat menikmati ‘lagu kala mendung’ dari Disa Tannos : Overture, serupa menyeruput kopi hitam yang telah demikian biasa dinikmati, namun kali ini terasa demikian nikmat. Happy reading!

 

 

Yogyakarta, Oktober 2014

~Icha Planifolia~

 

Niskala : Sebuah Resensi

1146547_10200456929083549_1906546209_nJudul Buku     : Niskala (Kisah Tentang Cinta, Keyakinan, dan Perjalanan Keliling Dunia)

Penulis            : Daniel Mahendra

Penerbit         : Qanita

Tahun Terbit : Juni 2013 (Cetakan I)

Tebal Buku    : 388 h.

Pertama kali saya berkenalan dengan karya seorang Daniel Mahendra adalah pada April 2012. Saya hadir di launching bukunya : Perjalanan Ke Atap Dunia (Resensinya bisa dilihat di sini). Kemudian akhir 2012, saya ketahui Oom DM (begitu saya menyapanya) tengah merawi sebuah novel. Konon, novel tersebut akan jadi mahar pernikahannya dengan Tante Lita Soerjadinata. Dan inilah Niskala!

Beberapa tokoh dan tempat di novel ini dimunculkan Oom DM nyaris sesuai aslinya. Saya sempat tertawa-tawa, bahkan pada part yang -mungkin- bagi orang lain tidak lucu. Dan memang nyaris keseluruhan novel ini ‘serius’. Tapi, demi terbayang keadaan aslinya, terbayang sosok orang-orang yang sebagian saya kenal, maka kisah di novel ini pun menjadi terasa lain.

Membaca novel ini, saya sulit membebaskan diri bahwa Galang bukanlah Daniel Mahendra. Bagaimana pun novel ada dalam bingkai fiksi. Berbeda dengan karya sebelumnya yang berbentuk memoar. Namun, saya tetap merasa bahwa Galang adalah Oom DM. Seolah ini adalah autobiografi.

Adalah Galang, seorang pejalan yang juga seorang penulis. Langkahnya membawa ia hingga ke Everest Basecamp. Di sana, ia terserang Accute Mountain Sickness. Hal ini memicu keributan antar teman seperjalanannya. Karena suasana memanas, akhirnya Juan -pejalan kolombia yang tinggal di New York- mengusulkan jika ada yang ingin berjalan lebih dulu dipersilakan, pun jika memilih menunggui Galang. Semuanya memilih menunggu. Joshua, traveler asal Israel kesal bukan kepalang karenanya. Bahkan Joshua mengatai Galang, “Kamu payah, Indonesia!” (hal. 19), kalimat itu menyulut emosi Galang. Nyaris terjadi keributan antar Galang dan Joshua, seandainya yang lain tak berusaha keras melerai.

Continue reading