Should I trust you?

Choco irish kembali kupilih sore ini. Aku tidak minum single origin coffee seperti biasanya, karena hari ini aku sangat lelah. Aku sendiri tak cukup yakin bahwa cokelat ampuh untuk memerbaiki mood, sebenarnya. Anggap saja ini iseng-iseng berhadiah. Sesekali kita perlu melakukan hal yang tak benar-benar kita yakini justru untuk mengetahui kebenarannya.

Di salah satu sudut Awor Gallery & Coffee aku duduk. Sendirian. Kafe ini sedang tak begitu ramai. Padahal ini malam minggu. Mungkin justru karena ini malam minggu, barangkali orang-orang sibuk berkencan; di kos-kosan, bioskop, mall, atau di tepi jembatan. Entahlah.

Dari tempatku duduk, aku leluasa mengedarkan pandang karena mejaku terletak di sudut yang memungkinkan aku melihat ke seluruh penjuru kafe. Tak terkecuali pintu masuk. Aku memandang pintu yang terkuak dan kedatanganmu, dengan datar. Aku bertaruh, kau akan mengambil tempat di hadapanku. Seperti biasanya, seperti yang sudah-sudah.

Kau membalas tatapan datarku dengan senyum. Lalu berdiri cukup lama di hadapanku. Baik aku maupun kau tidak kunjung berkata-kata hingga detik menggenap menit. Kau tersenyum sekali lagi, meninggalkan secarik kertas di mejaku, lalu Continue reading

Advertisements

Nothing Under The Sun Is Accidental

Nothing under the sun is accidental, least of all that of which the intention is so clearly evident.

—Gotthold Ephraim Lessing

 

Kususuri wajahku yang pucat dengan jari-jari yang terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Sudah tiga bulan aku mengalami diare, pening tak berkesudahan, rambut yang lebih rontok, badan yang kerap ngilu, dan sangat tidak tahan dengan sinar matahari. Pening dan lemas akan kian menjadi kala aku terpapar sinar matahari. Padahal, kini aku tinggal di Yogyakarta, kota dimana matahari hampir selalu muncul dengan cukup gagah, jika enggan menyebutnya sangat panas.

black-blue-butterfly-fly-Favim.com-1497274

Sumber : Favim.com

 

Jariku berhenti, menyusuri pattern yang menyerupai sayap kupu-kupu. Samar saja pola itu melekat di kedua pipiku. Aku sudah mencarinya di google, katanya itu sering dialami penderita Continue reading

Dongeng Kopi : Sebermulanya Adalah Kopi…

Coffee makes everything possible.

—Anonim

Jpeg

Bar Dongeng Kopi Jogja

 

Sore itu (12/04) adalah kunjungan ketiga saya ke Dongeng Kopi Jogja. Saya sudah jatuh cinta pada kedai kopi ini sejak kunjungan pertama. Barangkali ini adalah cinta yang dangkal, sebab kala itu saya jatuh cinta hanya atas dasar pandangan mata. Sedikit kontradiktif memang, mengingat saya tak percaya ada cinta pada pandangan pertama. Tapi, begitulah, saya suka desain kafe yang berdiri sejak Agustus 2014 ini.

Bangku-bangku kayu sederhana. Tatanan bar yang nyaman dilihat. Dan beberapa bagian dinding dilapisi koran bekas, sedang bagian lainnya dilapisi dengan ragam quote dan mural. Dengan desain dinding seperti itu, saya rasa kafe ini telah menunjukkan identitasnya sebagai art space alternative. Ya, berbicara Dongeng Kopi Jogja, kita akan jadi  Continue reading

Luk Coffe and Book : Sebuah Awal

Salah satu sudut Luk Coffee and Book

Choco Irish di gelasku nyaris tandas. Tapi tubuh jangkungmu belum juga tampak. Dengan berdebar kupandangi Saman karya Ayu Utami dalam genggamanku. Apakah hari ini kita akan membawa buku yang sama? Seperti hari-hari sebelumnya, seperti hari pertama perkenalan kita.

Waktu itu kau duduk di dekat jendela. Rambut sebahu yang tergerai membuat wajahmu tak tampak jelas, ditambah lagi kau dalam posisi menunduk, asik melahap buku yang entah apa. Mungkin aku tak akan pernah tahu buku apa yang kaubaca jika kau tak menghampiri mejaku yang persis berseberangan dengan posisimu duduk kala itu.

“Kau baca Teguh Winarso juga?” Kehadiranmu yang tiba-tiba di sampingku tentu sangat mengagetkan.

Aku mengernyit. “Juga?”

Kau menunjukkan buku dalam genggamanmu. Aku sempat merasa terganggu dengan kelancanganmu, tapi segera tersenyum begitu melihat kau juga menggenggam buku Tato Naga karya Teguh Winarso.

“Dingin,” Continue reading

Pohon Duka Tumbuh di Matamu

Hujan yang sempat cukup deras mengguyur Yogyakarta ternyata tidak menyurutkan langkah para pecinta puisi untuk menyambangi Dongeng Kopi, rabu (26/03) lalu. Pasalnya malam itu digelar perayaan buku puisi ‘Pohon Duka Tumbuh di Matamu’ karya Khrisna Pabichara, penyair -walaupun secara personal konon Khrisna Pabichara tidak pernah menahbiskan diri sebagai penyair- asal Makasar yang kini menetap di Bogor, dan dikenal luas telah menjadikan rindu lebih lezat untuk diperbincangkan.

Diskusi_Pohon_Duka_Tumbuh_di_Matamu[1]

Walaupun buku puisi ‘Pohon Duka Tumbuh di Matamu’ ini telah diterbitkan oleh Indie Book Corner sejak 2014 lalu, namun baru Maret 2015 ini sempat dirayakan. “Khrisna ini sibuk sekali.” kelakar Irwan Bajang, pimpinan pasukan kuli buku Indie Book Corner, yang sekaligus menjadi moderator diskusi malam itu. Perayaan buku puisi ini semakin menarik karena kaca pandang Joko Pinurbo yang unik dalam membedah buku puisi kedua Khrisna Pabichara ini.

Ya, bisa dikatakan ‘Pohon Duka Tumbuh di Matamu’ ini adalah kumpulan puisi kedua Khrisna Pabichara, seperti disampaikannya ketika ditanya mengenai jejak kepenyairannya, “Saya memang lebih dulu meluncurkan buku kumpulan cerpen dan novel, dibanding melansir kumpulan puisi. Tetapi tidak banyak yang tahu bahwa Continue reading